
Apakah iPad Pro Benar-benar Bisa Menggantikan Komputer Kita? Review Setelah Pemakaian Sebulan
- Yonatha Moon

- Jun 26, 2021
- 10 min read
Updated: Jun 27, 2021
“Your next computer is not a computer.”
Apple dengan percaya diri mengatakan dalam iklan iPad Pro 2020 dan 2021 kalau produk iPad terbarunya itu mampu menandingi kinerja komputer pada umumnya, atau bahkan apa yang tidak bisa dilakukan komputer, iPad Pro bisa. Gara-gara iklan itu juga, aku yang dari dulu udah ngincer MacBook, karena notebook yang aku punya udah gak bisa diandelin buat kerja, akhirnya memutuskan untuk memilih iPad. Namun, apakah iPad Pro ini benar-benar bisa menggantikan komputer kita? Ikuti tulisan ini hingga akhir, karena di sini aku akan mereview iPad Pro setelah pemakaian satu bulan.

Attention: Aku bukan seorang yang paham betul mengenai teknologi dan gadget, jadi ini bukan review profesional. Ini adalah sebuah review sederhana dari aku si konsumen yang puas sama produk Apple yang satu ini. Silakan nyalakan playlist dan bawa minuman favorit kalian sambil membaca blog ini, enjoy ;)
Introduction
Sebelum membelinya, aku melihat banyak video dan artikel mengenai review iPad seri Pro dan Air. Maklum, karena sebelumnya aku merupakan pengguna setia Samsung Galaxy Tab S, jadi agak asing dengan setiap seri iPad yang dimiliki Apple ini. Dari situ aku jadi tahu kalau iPad Pro generasi Pertama udah dirilis pada tahun 2015, lalu 2017, 2018, generasi selanjutnya dirilis pada musim semi tahun 2020, dan generasi teranyar yang menggandeng teknologi chip M1 dan jaringan 5G yang dirilis bulan April kemarin. Membuat kinerja iPad Pro 2021 ini menjadi super cepat, tanpa lag, dan tentunya menjadi salah satu komputer tablet tercanggih untuk saat ini.
Pada tanggal 21 Mei kemarin, akhirnya iPad yang aku pesan secara online datang. Paket itu berisi satu iPad Pro 11 inch (2020) WIFI only dengan storage 256GB, Apple Pencil gen 2, dua screen protector (tempered glass dan paper like), dua case yang transparent dan protective case, lalu yang terakhir Apple Pencil case. Saat itu aku belum membeli Magic Keyboard karena aku lagi nunggu Magic Keyboard tahun 2021 berwarna putih. Aku memilih iPad warna silver, jadi aku rasa Magic Keyboard warna putih akan menjadi pendamping yang cocok.
Aku tidak akan membicarakan bagaimana spesifikasi, kemasan, dan hal-hal teknis lainnya, karena kalian bisa melihatnya dalam video atau blog orang yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan daripada aku. Di sini aku hanya akan memberikan pengalaman aku menggunakan iPad Pro ini sebagai pengganti komputer. Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran jika kalian masih bingung untuk membeli iPad ini atau tidak.
iPad Pro 11
Okay, kita mulai dengan segi ukuran dan berat. Aku nggak merasakan perbedaan yang signifikan ketika mengganti Samsung Galaxy Tab S 10,5 inch ke iPad yang berukuran 11 inch, hanya berbeda 0,5 inch. Paling… dari segi berat yang terasa banget bedanya. Ipad 11 inch ini beratnya ±473g (2020) dan ±466g (2021). Untuk Ipad Pro 12,9 inch beratnya ±643g (2020) dan ±682g (2021). Hampir satu kilo!
Aku pernah menggambar berjam-jam di kursi yang gak ada mejanya, alhasil aku pegang terus si iPadnya. Beberapa jam kemudian baru kerasa tangan kiri jadi pegel berasa abis bawa dumbbell lima kilo. Gak kebayang kalo yang ukuran 12,9 inch berat dan gedenya kayak gimana, tapi ukuran yang 11 inch ini masih enak buat dipegang dan dibawa kemana-mana pake tangan as a tablet. Soalnya kalau yang 12,9 tuh keliatannya kayak yang gede banget buat dipegang di tangan, kayak paling enak buat di jadiin notebook beneran.
Overall aku menyukai desain terbaru dari iPad Pro, cukup tipis dengan desain yang elegan. Hanya saja, seri Pro ini warnanya sangat menjemukan, hanya tersedia dua varian, space gray dan silver. Mungkin karena judulnya udah ’Pro’ dengan segmen pasar pekerja profesional, jadi Apple hanya memberikan warna-warna netral. Berbeda dengan seri Air dimana Apple menargertkan pelajar sebagai sasaran marketnya, makanya mereka memberikan varian warna yang beragam dan lucu. Melihat desain iPhone 12 dan iPad seri Air dan Pro tahun 2018 sampai 2021, jadi ngingetin aku ke masa kejayaan iPhone 4 dan 5, mungkin Apple ingin bernostalgia dengan mengembalikan desain produk mereka ke desain dulu.
iPad Pro Performance
Selanjutnya, hal yang paling terasa perbedaannya adalah performa si iPad ini. Seperti yang diklaim oleh Apple kalau iPad Pro ini untuk aktivitas multitasking yang serba cepat yang dirancang untuk profesional. Kenceng banget performanya! Aku jadi bisa melakukan beberapa tugas sekaligus tanpa lag sama sekali. Untuk lebih jelasnya kalian bisa melihat betapa multitaskernya si iPad Pro dalam video di bawah ini.
Aku seneng banget setelah ganti ke iPad, bisa makin produktif. Aku jadi bisa belajar digital drawing/painting, bisa nulis cerita, cari-cari inspirasi di internet, edit foto dan video, like I can do anything with my iPad Pro. Salah satu alasan juga kenapa aku gak bisa nunggu lebih lama buat seri 2021 karena aku ingin lebih cepat produktif dan menghasilkan beberapa karya dengan iPad. Meski agak menyesal karena jadi gak bisa mencoba iPad Pro 2021 chip M1, tapi yang seri 2020 ini juga masih sangat mumpuni. Aku bakal pake iPad ini untuk beberapa tahun kedepan karena aku bukan orang yang suka gonta-ganti gadget setiap tahun, hehe.
Next! Dalam segi baterai, as it claimed,
“Up to 10 hours of surfing the web on Wi-Fi or watching video”.
Klaim itu bukan cuma isapan jempol semata. Biasanya aku charge sekali dan itu kepake seharian buat browsing, writing, drawing, kadang juga nonton video yang durasinya 45 menit sampai dua jam. Durasi chargingnya kehitung cepet untuk daya baterai yang tahan lama. Kalau persentase baterainya sekitar 50%, durasi chargingnya 30-45 menit. Kalau persentase baterainya 0-10%, durasi chargingnya bisa sampe 1-2 jam. Jadi biasanya, supaya kondisi baterai iPad aku sehat, saat bangun tidur aku langsung charge dalam keadaan jaringan yang mati dan gak aku pake sama sekali selama charging.
BUT. Mereka juga ngasih tahu kalau ketahanan baterai tergantung dari pemakaian dan kebiasaan pengguna. Soalnya ada beberapa aplikasi yang consumed a lot of battery. Contohnya, aplikasi menggambar, aplikasi mengedit video, dan aplikasi VoD. Di posisi aku, aplikasi yang paling kerasa boros baterai adalah InShot, aplikasi buat ngedit video. Waktu itu aku buka InShot dalam keadaan baterai 100%, aku pake selama dua jam atau tiga jam aku agak lupa, mereka nyedot baterainya hampir 50 persenan. Meski begitu, aku gak perlu charge lagi karena setelah selesai sama aplikasi InShot dan buka aplikasi lain, iPad ini masih bisa tahan sampe aku mau tidur.
Sebagai pecinta dan penikmat musik, aku sangat mengapresiasikan Apple dalam merubah tampilan speaker pada iPad Pro. Mereka memasang empat speaker untuk mengoptimalisasikan kualitas suara. Menurutku kita gak bisa menilai kualitas speaker pada iPad ini kalau hanya menonton video di YouTube, karena sepengalamanku, banyak kualitas audio pada video di YouTube yang kurang bagus, mungkin karena masalah teknis dari si uploadernya. Speaker ini akan sangat terasa perbedaannya ketika kamu mendengarkan musik dari smartphone lalu kamu dengarkan lagunya dari iPad. Percaya deh, dengan adanya empat speaker ini beneran ada gunanya. Apalagi sekarang Apple Music memiliki fitur baru spatial audio yang memberikan pengalaman mendengarkan musik seperti di bioskop. This is a very outstanding idea with a great feature. Oh ya, suaranya juga keren saat kita menonton film atau series di aplikasi VoD seperti Netflix, Disney+ Hotstar, etc..
Kamera pada iPad Pro 11 juga cukup impresif bagi sebuah tablet. Aku tidak bisa berbicara banyak mengenai kamera karena aku jarang menggunakan fitur ini, kalian bisa langsung melihat hasil foto yang aku ambil menggunakan kamera iPad.
Aku belum bisa berbicara mengenai performa bermain game di sini, karena aku belum mengunduh game sama sekali. Mungkin kalau aku sudah punya uang lebih untuk membeli game controller, aku bisa mengunduh game balapan di sini. Sekarang aku ingin fokus menulis dan belajar digital drawing.
Apple Pencil Gen 2: Best Buddy for iPad Pro
Bagi seseorang yang ingin menggeluti dunia kreatif, membeli iPad Pro tanpa Apple Pencil rasanya seperti membeli mie kocok tanpa baso, kok agak aneh ya perumpamaannya? Lol. But I mean it, you’ll fall in love with your new iPad immediately, when you do some creative activities such as drawing, photo editing, or writing your journal and assignment with Apple Pencil on iPad.
Hanya perlu menempelkan Apple Pencil gen 2 ini ke area magnet yang ada di pinggir iPad untuk menyambungkannya, dan kita udah bisa langsung menggunakan Apple Pencil untuk keperluan mendesain, menggambar, ataupun menulis. Benar-besar simple. Desain Apple memang selalu simple tapi outstanding.
Menggambar di iPad menjadi terasa menyenangkan karena Apple Pencil bekerja dengan baik pada banyaknya aplikasi menggambar yang tersedia di App Store. Salah satu yang menjadi perubahan besar pada Apple Pencil gen 2 dari pendahulunya adalah, dengan adanya fitur ‘double tap’ pada beberapa aplikasi yang mendukung. Gampang banget buat nge-tap badan pensil buat mengubah mode dari pena/pensil ke penghapus dengan peralihan yang alami. Ini seperti Apple bisa membaca apa yang diinginkan dari setiap user pada Apple Pencil generasi sebelumnya. Harganya memang gak murah, tapi untuk pengguna profesional, membeli tablet ini dengan pensil masih sepadan dengan investasinya.
Magic Keyboard: An Excellent Keyboard to Make Your iPad Pro More Pro!

Waktu liat iklan iPad Pro 2020 untuk yang pertama kalinya, salah satu yang paling membuat aku amazed adalah Magic Keyboard. I was like, WOW, it’s freaking cool! And it makes the iPad float?? It’s creepier! Abis liat iklan itu aku memantapkan diri buat beli iPad (MacBook minggir dulu, iPad mau lewat). Aku bisa menggambar karakter dan menulis cerita langsung dari iPad, and I think it was the right decision that I made.
Akhirnya aku beli Magic Keyboard (MK) 2021 kemarin tanggal 20 Juni secara online, besoknya tanggal 21 Juni udah sampai lagi, and I was really excited to receive that package. This is just like something that I dreamed of from the iPad, and it's a white one! Aku lebih memilih MK 2021 ketimbang 2020 karena mereka punya warna putih di seri terbarunya, so my iPad looks more beautiful in white MK, but yeah, I have to keep everything clean and tidy or my MK will get dirty easily. Oh yea, this MK will work perfectly on iPad Air, too.
Adik aku sampai terkagum-kagum waktu ngeliat iPad yang udah terpasang secara magnetik di MK. Aku bahkan norak dikit waktu cari sesuatu di Setting buat nyambungin MK ke iPad, which this MK was connected automatically! Padahal udah sering diliatin di iklan kalau si MK ini tersambung secara otomatis, LOL. Yang bikin aku makin cinta sama si MK ini, mereka gak perlu di charge selama iPad kita menyala, karena pake smart connector jadi baterainya otomatis tersambung dari iPad. Bagaimanapun, karena MK pake daya dari iPad, so it makes iPad’s battery decrease faster, tapi masih kehitung awet kok, aku masih bisa ngetik seharian tanpa harus charging iPad lagi. Ada port USB type-C juga di MK jadi bisa charging iPad lewat situ, dan port USB di iPad bisa kita gunakan untuk transfer data or anything else.
Aku pernah lihat review dari beberapa user tentang MK, jadi si MK ini kayak produk wajib kalau kalian beli iPad Pro atau Air. Seorang pekerja kantoran mungkin boleh skip membeli Apple Pencil karena dirasa perlu gak perlu, tapi buat pelajar sama seniman, Apple Pencil menjadi aksesoris yang wajib dimiliki saat beli iPad Pro atau Air, soalnya mereka sering menggunakan tablet mereka buat nugas atau bikin ilustrasi. Lain halnya untuk MK, MK is the best companion for your iPad whoever you are.
Desainnya terasa sangat kokoh dan tentunya memberikan pengalaman mengetik yang baik. Terdapat backlight tombol yang bisa nyala secara otomatis kalau kalian mengetik di tempat gelap. Gestur dalam trackpad-nya sensitif banget, kita bahkan nggak perlu menyentuh layar untuk menyetel iPad selama iPad tersambung ke MK. MK juga melindungi bagian depan dan belakang iPad kita, bahkan iPad kita udah terlihat seperti laptop kalau dalam keadaan tertutup. Sayangnya, mereka hanya menutupi bagian depan dan belakang aja, sedangkan sampingnya nggak terlindungi. Aku udah nyoba pake casing iPad yang transparent trus aku sambungin ke MK, emang masih bisa nempel, tapi gak bisa nyambung.
Kekurangan lainnya adalah beratnya. MK-nya aja beratnya udah ±601 gram, ditambah iPad yang beratnya ±473 gram, berarti udah satu kilo lebih. Ngerti sih, agar membuat iPad kita kokoh dan diam saat tersambung sama MK, maka massa MK harus lebih berat dari si iPad. Selain itu, harganya yang selangit membuat kita harus merogoh kocek lebih banyak lagi buat bikin si iPad ini more powerful. Orang tua sama partner aku aja kaget waktu denger harganya, tapi saat mereka melihat kinerja dan desain si MK, respon mereka langsung, “Ada uang ada barang emang. Gak salah mereka matokin harga yang mahal kalau kualitasnya keren kayak gini.”
Conclusion
Jadi, apakah iPad Pro ini benar-benar bisa menggantikan komputer kita? Jawabannya adalah maybe yes, maybe no. Kenapa begitu? Karena bagi aku yang aktivitas dan rutinitas sehari-harinya lebih sering mengetik dan menggambar, atau mungkin buat pelajar, jurnalis, dan entrepreneur, iPad Pro ini udah bisa menggantikan komputer.
Lain halnya bagi mereka yang seorang programmer, professional illustrator, filmographer, ataupun professional editor, kayaknya iPad belum bisa menandingi kinerja komputer, karena masih ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan di iPad, di komputer bisa. Banyak dari reviewer profesional yang aku lihat mengatakan seperti itu juga, kalau mereka masih membutuhkan komputer untuk pekerjaan mereka, tapi mereka juga mengakui kalau iPad Pro bisa melakukan banyak hal. Sayangnya, untuk meningkatkan performa iPad Pro, dibutuhkan aksesoris tambahan yang harganya juga selangit membuat iPad ini mungkin menjadi salah satu komputer tablet termahal dijajarannya.
In summary, aku sangat menyukai dan kagum dengan performa iPad Pro, ini menjadi salah satu iPad terbaik untuk saat ini yang pernah dibuat Apple. Ada yang mengatakan, kalau biasanya Apple tidak merubah banyak sistem operasional iPad pada setiap rilis, tapi sejak mereka mengeluarkan iPad Pro tahun 2018, mereka telah melakukan perubahan besar dalam sejarah komputer tablet, dan tentunya dengan harga yang sangat tidak murah.
Tapi aku rasa, kalau dijumlahin harga iPad Pro (2020: 12 juta keatas, 2021: 15 juta ke atas), Apple Pencil (±1,8 juta), dan Magic Keyboard (2020: ±3 juta, 2021: ±5 juta), hampir sebanding sama harga MacBook Pro (20 juta ke atas). Dengan bonus kita udah bisa mendesain atau menggambar langsung dan gak perlu beli drawing tablet lagi, tapi kita juga bisa menggunakan iPad kita untuk aktivitas lain sebagai pengganti komputer. This is just my own opinion, some of you may not agree with it. Lagian semua tergantung sama selera, kebutuhan, dan budget dari masing-masing individu. Yang budgetnya terbatas boleh pertimbangkan mau pilih laptop terbaru yang canggih, MacBook, atau iPad. Kalau yang punya budget berlebih bisa langsung beli semuanya.
PS:
Sebenarnya aku sedikit menyesal karena terlalu buru-buru membeli iPad 2020 ini. Aku pikir akan cukup lama untuk iPad Pro 2021 untuk masuk ke Indonesia. Ternyata eh ternyata, beberapa hari setelah aku membeli iPad, toko elektronik dimana aku membeli iPad sudah menyediakan iPad 2021 tanpa harus pre-order lagi :”) Jadi ya sudahlah, fortunately I’m not that gadget freaks, toh perbedaannya juga tidak terlalu signifikan (untuk melihat perbedaan iPad Pro 2020 dan 2021 bisa dilihat di sini). Lagipula, kinerja iPad Pro 2020 ini masih sangat mumpuni, cepat, tidak pernah lag, dan benar-benar pro.

Banyak orang, terutama laki-laki, yang lebih memilih membeli iPad Pro 2021 dan MK 2020 demi memangkas budget, tapi caraku memangkas budget adalah dengan memilih iPad Pro 2020 dengan MK 2021, karena MK 2020 nggak punya warna putih. Aku lebih suka keyboard berwarna cerah dibandingkan warna gelap. Agak aneh, ya? Tipikal cewek banget yang lebih mentingin tampilannya daripada spesifikasi 😂
THIS IS IT! My very first review of the iPad. Keep healthy for all of you who visit my blog, and have a good day good people!






























Comments