WELCOME, MIO-CHAN!
- Yonatha Moon

- Jun 16, 2019
- 5 min read
Updated: Oct 18, 2019

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya pada postingan lalu bahwa aku menemukan anak kucing di jalanan. Sebenarnya ini agak telat sih, cuman karena biar urutan post-nya nyusun jadi aku mau nulis tulisan ini dulu sebelum akhirnya aku ceritakan pengalamanku di hari Sabtu kemarin.
To be honest, sebenarnya agak ragu juga ketika memutuskan untuk memungut anak kucing di jalan yang keadannya memprihatinkan banget. Tapi rasa kemanusiaanku tiba-tiba tumbuh sehingga akhirnya aku, mamaku, dan adikku memutuskan untuk memelihara anak kucing ini. Karena, dari berbagai artikel yang pernah aku baca mengenai bahaya (disamping manfaat dan nilai kebajikan) memungut kucing liar menyebutkan bahwa ada banyak bakteri dan penyakit yang dapat dibawa dari kucing liar yang kita sentuh, itu yang membuat aku sering bimbang dalam kelanjutan memelihara anak kucing ini. Apalagi ini merupakan kali pertama aku dan keluargaku memelihara seekor kucing, membuat kami sedikit repot mengurus seekor anak kucing. Tapi akhirnya, seiring berjalannya waktu, aku, mamaku, dan adikku malah terlanjur sayang sama anak kucing ini, yang kami beri nama Mio dengan nama panggilan Mi-chan (kalau dilihat dari alat reproduksinya sih anak kucing ini betina jadi kami beri nama Jepang yang feminine yang memiliki arti "beautiful cherry blossom", meskipun sebenarnya kami nemuin dia pada tanggal 4 Juni 2019 lalu, karena masih akhir musim semi, jadi sepertinya nama Mio akan cocok untuk anak kucing ini, hihi)
Meski capek dan harus mengeluarkan uang lebih untuk biaya pengobatannya, tapi aku sangat senang berkesempatan mengurus seekor anak kucing.

Well, seperti yang pacarku bilang, kalau ngurus anak kucing itu dua kali lebih repot daripada kucing yang sudah dewasa, dan itu benar-benar terjadi dan terasakan oleh kami (aku, mamaku, dan adikku yang notabene mengurus anak kucing ini di rumah karena kedua kakakku yang laki-laki semua serta ayahku yang tidak mau diambil pusing untuk anak kucing ini). Beberapa hari sebelum aku menemukan Mi-chan, aku membawa masuk kucing yang mengeong-ngeong di depan rumahku, karena kasihan pada saat itu malam hari dengan yang cuaca cukup dingin kucing itu terlihat sangat lapar, akhirnya aku membawa dia masuk dan memberikan dia makan. Beberapa hari kucing itu ada di rumahku, hingga akhirnya dia terlihat sehat dan lincah, akhirnya aku beri nama dia Mino karena dia seekor jantan. Namun, suatu malam dia kabur dan baru ditemukan lagi besok sore, itupun ketika customer mama memberitahu kalau dia menemukan kucing abu dengan ekor buntet, setelah dibawa ke rumah untuk dipastikan, ternyata benar itu Mino. Akhirnya Mino kembali lagi ke rumah, tetapi, lagi dan lagi Mino kabur dari rumah, kali ini aku dan adikku tidak mencarinya karena sepertinya dia lebih betah tinggal di rumah customer mama yang hanya berbeda blok dari rumahku.
Ketika aku, mamaku, dan adikku mengurus Mino, kami tidak begitu repot mengurusnya. Berbeda saat kami mengadopsi Mi-chan yang masih bayi, mungkin pada saat itu masih kurang dari satu bulan, bahkan matanya pun masih tertutup. Sekitar tiga hari Mi-chan tinggal di rumahku, aku mencari informasi mengenai mata bayi kucing di internet, aku melihat banyak dari anak kucing yang seukuran Mi-chan yang matanya sudah terbuka. Akhirnya aku harus mengambil langkah untuk membantu membukakan matanya dengan bantuan antiseptic dan salep mata, berdasarkan informasi yang aku dapat dari video di Youtube, well you can watch my video when I healing Mi-chan's eyes in the end of this article.

Akhirnya setelah dua kali aku bersihkan matanya menggunakan Dettol antiseptic dan salep mata Terra-Cortril, mata Mi-chan sudah mulai terbuka. Aku sangat senang melihat kenyataan itu. Aku sempat khawatir bahwa aku akan salah langkah, karena bagaimanapun aku ini minim pengalaman, tapi yokata-ne, mata Mi-chan dapat teratasi, aku harap matanya akan benar-benar pulih dan membuka dengan sempurna. Tadinya, aku ingin ahli medis yang mengatasi mata Mi-chan, sayangnya, saat aku menemukan Mi-chan adalah saat cuti bersama untuk hari raya Idul Fitri, jadi sepertinya dokter atau klinik hewan baru buka pada hari Senin tanggal 10 Juni mendatang. Beruntunglah aku yang hidup di zaman yang serba digital jadi dengan mudah aku mendapatkan informasi mengenai pertolongan pertama yang dapat kita lakukan untuk membuka mata kucing yang baru lahir.

Memanfaatkan libur lebaran, aku, mamaku, ayahku, adikku serta pacarku pergi ke luar kota pada hari Rabu, 12 Juni 2019, untuk berendam dan bermain di taman air. Dengan berat hati aku meninggalkan Mi-chan di rumah bersama kedua kakakku. Tadinya kami akan menginap di penginapan dekat dengan taman air, tapi akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang setelah selesai bermain air. Sekitar pukul sepuluh malam kami sampai di rumah dengan keadaan halaman yang kotor dipenuhi oleh kotoran Mi-chan. Seperti yang sudah aku duga bahwa aku tidak dapat mengandalkan kedua kakakku untuk mengurus Mi-chan termasuk mengajarkan dia membuang kotoran di litter box yang sudah disediakan T.T
Nah, disinilah keanehan mulai terjadi. Besoknya, aku membersihkan halaman yang sudah tercemar kotoran Mi-chan karena mamaku sibuk memasak, dan adikku mengelap bulu dan wajah Mi-chan dengan tissue basah. Bahkan setelah itu Mi-chan membuang kotorannya lebih dari dua kali, sedangkan sebelumnya dia hanya membuang kotoran satu sampai dua kali dalam sehari. Itu membuat aku jengkel karena aku harus membersihkan halaman rumah lagi dengan ekstra tenaga karena kotorannya berceceran dimana-mana. Karena dia masih kecil, agak sulit bagiku mengajarinya buang kotoran di litter box, berbeda dengan Mino yang sehari diajarkan besoknya dia langsung mengerti untuk membuang kotorannya di litter box.
Aku perhatikan, biasanya Mi-chan membuang kotorannya di satu tempat yang sudah dia tandai, makanya aku pun selalu mengantipasi dengan menyimpan kertas tebal jikalau aku tidak dapat mengontrol Mi-chan seharian, dan dia tidak dapat membuang kotorannya di litter box, at least dia membuang kotorannya di atas kertas yang sudah dia tandai sebagai "tempat" membuang kotorannya. Namun, kali ini aku lihat jejak kotorannya benar-benar acak. Pada Jumat (14 Juni 2019) pagi aku sudah mulai curiga, dan kecurigaanku terjawab saat aku dan adikku selesai membersihkan badannya, Mi-chan langsung ingin membuang kotorannya, kami bawa dia ke litter box, dan pada saat itulah aku melihat kotorannya lebih cair dari biasanya. Well, dia terserang diare. Karena pada hari Jumat aku, mamaku, dan adikku cukup sibuk jadi tidak bisa membawa dia ke dokter hewan, akhirnya aku berencana membawanya ke dokter besok pagi.

Setelah mengobati matanya di rumah, kini aku benar-benar harus membawanya ke dokter hewan untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab diare pada Mi-chan. Aku, mamaku, dan adikku benar-benar sudah merasakan betapa kita perlu tenaga ekstra ketika memilih untuk mengurus anak kucing, apalagi yang baru lahir. Meski capek dan harus mengeluarkan uang lebih untuk biaya pengobatannya, tapi aku sangat senang berkesempatan mengurus seekor anak kucing. Aku harap dia akan menjadi sahabat main untuk aku dan adikku juga mamaku yang sama-sama penyuka kucing. Aku harap Mi-chan dapat tumbuh kembang dengan baik. Jika nanti aku dan mamaku memiliki uang lebih, aku ingin membawa dia kembali ke dokter hewan untuk divaksin, karena aku lihat biaya vaksin di dokter hewan cukup merogoh uang di dompet, kita harus menyiapkan biaya sekitar 300 sampai 700 ribu, kalau tidak salah ada tiga vaksin yang dapat dilakukan; vaksin imun, vaksin cacing, satu lagi aku lupa vaksin apa.
Sebenarnya kemarin aku sudah ke dokter hewan untuk Mi-chan (Sabtu, 15 Juni 2019). Tapi sepertinya pengalaman pertama aku mengunjungi dokter hewan baiknya aku ceritakan pada postingan selanjutnya, karena tulisanku di sini sudah cukup panjang. Well, if you have any question, or you have some suggestion about how to care of kitten, feel free to talk to me^^


Comments